PARIGI MOUTONG – Manajemen RSUD Anuntaloko Parigi mengakui masih menghadapi sejumlah kendala dalam sistem pengadaan obat, mulai dari keterlambatan distribusi hingga kewajiban pembayaran utang kepada penyedia. Kondisi tersebut menjadi perhatian manajemen karena berpengaruh terhadap ketersediaan beberapa jenis obat yang dibutuhkan pasien.
Pelaksana Tugas Direktur RSUD Anuntaloko Parigi, Irwan, SKM, M.Kes, mengatakan kendala yang terjadi bukan disebabkan oleh tidak adanya pemesanan obat, melainkan karena sebagian item yang telah dipesan belum tiba saat dibutuhkan.
“Bukan karena kosong, tapi ada beberapa item yang sudah dipesan namun belum sampai saat dibutuhkan,” ujar Irwan di ruang kerjanya, Sabtu, 24 Januari 2026.
Ia menjelaskan, rumah sakit tetap berupaya memenuhi kebutuhan pasien melalui apotek internal selama obat yang dibutuhkan tersedia dalam Formularium Nasional (Fornas). Namun, pada kondisi tertentu, seperti yang terjadi pada November 2025, keterlambatan pengiriman dari penyedia menyebabkan sejumlah obat belum dapat tersedia tepat waktu.
Menurut Irwan, persoalan tersebut menjadi bahan evaluasi penting bagi manajemen rumah sakit. Karena itu, pihaknya berkomitmen memperbaiki sistem pengadaan agar proses pemesanan dapat dilakukan lebih cepat, terencana, dan sesuai dengan kebutuhan pelayanan.
Ia menuturkan bahwa salah satu langkah awal yang dilakukan setelah menjabat sebagai pelaksana tugas direktur adalah menyelesaikan kewajiban pembayaran kepada penyedia obat guna memastikan kelancaran proses pengadaan.
“Saat saya masuk, yang pertama saya tanda tangani adalah pembayaran utang obat, supaya kita bisa dibukakan kembali akses pengadaan,” kata Irwan.
Lebih lanjut, ia mengakui masih terdapat utang pengadaan obat yang harus diselesaikan secara bertahap. Di saat yang sama, manajemen juga terus berupaya meningkatkan efisiensi penggunaan obat tanpa mengurangi mutu pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
Irwan menegaskan bahwa RSUD Anuntaloko tidak pernah memiliki kebijakan mengarahkan pasien untuk membeli obat di luar apotek rumah sakit. Menurutnya, rumah sakit tetap berupaya memenuhi kebutuhan obat pasien sesuai kemampuan dan ketersediaan yang ada.
Ia juga menyampaikan apresiasi atas berbagai kritik dan masukan yang disampaikan masyarakat terkait pelayanan kesehatan. Menurutnya, masukan tersebut menjadi bagian penting dalam upaya perbaikan tata kelola rumah sakit ke depan.
“Kami sangat terbuka terhadap kritik. Semoga setiap kritik juga bisa kita carikan jalan keluarnya bersama,” pungkasnya.*







