PARIGI MOUTONG – Upaya peningkatan mutu pendidikan di Kabupaten Parigi Moutong sepanjang 2025 menunjukkan hasil yang cukup positif. Evaluasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Parigi Moutong mencatat, sejumlah indikator kualitas pendidikan mengalami peningkatan, mulai dari nilai Rapor Pendidikan, Standar Pelayanan Minimal (SPM), hingga akreditasi sekolah.
Jika selama ini akses pendidikan kerap menjadi fokus utama pembangunan sektor pendidikan, data terbaru menunjukkan bahwa kualitas layanan juga mulai bergerak ke arah yang lebih baik.
Plt Kepala Disdikbud Parigi Moutong, Sunarti, mengatakan, peningkatan mutu pendidikan menjadi salah satu indikator penting dalam melihat efektivitas kebijakan pendidikan daerah. Menurut dia, kualitas pendidikan tidak hanya diukur dari jumlah anak yang bersekolah, tetapi juga dari kualitas layanan dan hasil pembelajaran yang diterima peserta didik.
“Indikator kualitas layanan pendidikan menunjukkan tren yang sangat baik, baik dari sisi akreditasi maupun standar pelayanan,” kata Sunarti di Parigi, Jumat (1/5/2026).
Data Disdikbud mencatat, nilai Rapor Pendidikan Kabupaten Parigi Moutong meningkat dari target 51,07 menjadi 61,78, atau setara dengan capaian 120,97 persen. Kenaikan itu menjadi indikator bahwa kualitas pembelajaran di sekolah mulai menunjukkan perbaikan.
Rapor Pendidikan sendiri merupakan instrumen evaluasi yang digunakan untuk memotret mutu pendidikan secara menyeluruh, termasuk kualitas pembelajaran, kompetensi peserta didik, serta tata kelola sekolah.
Peningkatan nilai rapor pendidikan menjadi sinyal bahwa sekolah-sekolah di Parigi Moutong mulai bergerak menuju perbaikan sistemik. Selain itu, indikator Standar Pelayanan Minimal (SPM) pendidikan juga menunjukkan hasil positif. SPM pendidikan tercatat mencapai 82,14 dari target 78,36, atau setara dengan capaian 104,82 persen.
Capaian ini menunjukkan bahwa pemenuhan layanan dasar pendidikan, baik dari sisi sarana, tenaga pendidik, maupun layanan administratif, semakin mendekati standar yang ditetapkan pemerintah.
Tidak hanya pada kualitas pembelajaran dan layanan dasar, penguatan mutu pendidikan juga tercermin dari capaian akreditasi sekolah. Data Disdikbud menunjukkan, persentase sekolah terakreditasi mencapai 99,63 persen dari target 75,27 persen. Artinya, hampir seluruh sekolah di Parigi Moutong kini telah memenuhi standar penilaian kelembagaan yang ditetapkan. Akreditasi menjadi salah satu tolok ukur penting dalam menjamin kualitas tata kelola pendidikan, mulai dari proses belajar-mengajar, manajemen sekolah, hingga dukungan sarana dan prasarana.
Bagi Sunarti, capaian akreditasi yang hampir menyentuh angka sempurna menunjukkan adanya keseriusan sekolah dalam menjaga standar mutu pendidikan. Meski begitu, ia mengingatkan bahwa capaian tersebut tidak boleh dipandang sebagai akhir dari proses perbaikan.
Menurut dia, kualitas pendidikan harus terus ditingkatkan seiring dengan tuntutan perubahan zaman dan kebutuhan kompetensi peserta didik yang semakin berkembang.
“Kami telah mencapai target yang ditetapkan, namun capaian tersebut tidak boleh membuat kita terlena. Apa yang sudah diraih harus terus ditingkatkan, dengan menetapkan target yang lebih tinggi di masa mendatang,” ujarnya.
Sunarti menegaskan, peningkatan mutu pendidikan harus berdampak langsung pada kemampuan peserta didik dalam bersaing, baik di tingkat daerah maupun nasional. Ia berharap hasil evaluasi yang positif itu dapat menjadi pijakan untuk memperkuat kebijakan pendidikan di tahun-tahun berikutnya.
Sebab, kata dia, ukuran keberhasilan pendidikan tidak hanya berhenti pada indikator administratif, tetapi pada kualitas lulusan yang dihasilkan.
“Selain memastikan tidak ada anak putus sekolah, kita juga harus meningkatkan prestasi. Outputnya adalah menciptakan anak yang mampu bersaing dengan daerah lain, sehingga di manapun mereka menimba ilmu, mereka bisa masuk sesuai harapan,” kata Sunarti.
Di tengah tantangan pembangunan pendidikan yang semakin kompleks, peningkatan mutu layanan menjadi penanda bahwa pendidikan di Parigi Moutong tidak hanya bergerak memperluas akses, tetapi juga mulai memperkuat kualitas.
Tantangan berikutnya adalah menjaga konsistensi peningkatan itu agar tidak berhenti pada angka evaluasi, melainkan benar-benar tercermin dalam kemampuan dan daya saing generasi yang dihasilkan.*








Comments 1