PARIGI MOUTONG – Di balik capaian positif sektor pendidikan di Kabupaten Parigi Moutong sepanjang 2025, persoalan tenaga pendidik masih menjadi pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya terselesaikan. Evaluasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Parigi Moutong menunjukkan, distribusi guru dan kualifikasi tenaga pendidik masih belum ideal.
Padahal, keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh akses sekolah dan kualitas layanan, tetapi juga oleh ketersediaan guru yang kompeten dan tersebar merata.
Plt Kepala Disdikbud Parigi Moutong, Sunarti, mengatakan, aspek tenaga pendidik masih menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan di daerah.
Menurut dia, tantangan pada sektor guru perlu menjadi perhatian karena berpengaruh langsung terhadap proses pembelajaran di sekolah.
Data Disdikbud mencatat, persentase guru berkualifikasi sesuai Standar Pelayanan Minimal (SPM) baru mencapai 53,54 persen. Sementara target yang ditetapkan berada di angka 69,82 persen. Di sisi lain, distribusi guru sesuai standar juga tercatat masih berada pada angka 56,48 persen dari target 82,14 persen.
Sekilas, angka realisasi itu terlihat masih cukup jauh dari target yang diharapkan. Namun, dalam laporan evaluasi kinerja, kedua indikator tersebut justru tercatat memiliki capaian tinggi, masing-masing 130,41 persen dan 145,43 persen.
Sunarti menjelaskan, tingginya capaian indikator itu disebabkan oleh metode perhitungan yang mengacu pada standar pelayanan minimal yang berbeda. Dengan kata lain, secara administratif indikator dinilai melampaui target, tetapi secara faktual tantangan distribusi dan kualitas guru masih ada.
“Indikator kualitas layanan pendidikan menunjukkan tren yang sangat baik, baik dari sisi akreditasi maupun standar pelayanan,” kata Sunarti di Parigi, Jumat (1/5/2026).
Dalam praktiknya, persoalan distribusi guru sering kali berkaitan dengan ketimpangan penempatan tenaga pendidik antar wilayah. Sekolah-sekolah yang berada di wilayah perkotaan atau pusat kecamatan cenderung lebih mudah memenuhi kebutuhan guru, sementara sekolah di daerah terpencil masih menghadapi keterbatasan.
Kondisi geografis Kabupaten Parigi Moutong yang cukup luas, dengan bentang wilayah dari pesisir hingga pegunungan, menjadi tantangan tersendiri dalam pemerataan tenaga pendidik.
Ketimpangan distribusi guru dapat berdampak pada kualitas pembelajaran, terutama di sekolah-sekolah yang kekurangan tenaga pengajar atau harus mengandalkan guru dengan beban kerja berlebih.
Selain distribusi, persoalan kualifikasi guru juga menjadi faktor penting. Guru dengan kompetensi yang sesuai standar memiliki peran besar dalam meningkatkan kualitas pembelajaran dan hasil belajar peserta didik. Dalam konteks pendidikan, kualitas guru menjadi fondasi utama dalam membentuk kualitas lulusan.
Sunarti menegaskan, capaian indikator yang baik tidak boleh membuat pemerintah daerah mengabaikan persoalan mendasar di lapangan. Menurutnya, peningkatan kualitas tenaga pendidik harus menjadi bagian dari agenda berkelanjutan.
“Kami telah mencapai target yang ditetapkan, namun capaian tersebut tidak boleh membuat kita terlena. Apa yang sudah diraih harus terus ditingkatkan, dengan menetapkan target yang lebih tinggi di masa mendatang,” ujarnya.
Bagi Disdikbud, upaya perbaikan ke depan tidak hanya berkutat pada pemenuhan jumlah guru, tetapi juga peningkatan kapasitas dan pemerataan penempatan.
Pelatihan, peningkatan kompetensi, serta penataan distribusi guru dinilai menjadi langkah penting agar kualitas layanan pendidikan bisa dirasakan lebih merata.
Sunarti berharap, perbaikan pada sektor tenaga pendidik dapat berdampak langsung pada peningkatan prestasi siswa.
Sebab, menurut dia, guru adalah salah satu faktor paling menentukan dalam membangun daya saing generasi muda.
“Selain memastikan tidak ada anak putus sekolah, kita juga harus meningkatkan prestasi. Outputnya adalah menciptakan anak yang mampu bersaing dengan daerah lain, sehingga di manapun mereka menimba ilmu, mereka bisa masuk sesuai harapan,” kata Sunarti.*







