PARIGI MOUTONG – Capaian sektor pendidikan di Kabupaten Parigi Moutong sepanjang 2025 menunjukkan tren yang cukup menggembirakan. Dari 17 indikator kinerja yang menjadi tolok ukur evaluasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud), sebagian besar tercatat melampaui target yang telah ditetapkan.
Catatan kinerja itu tidak hanya menunjukkan peningkatan pada akses pendidikan, tetapi juga perbaikan mutu layanan, penguatan tenaga pendidik, hingga perkembangan sektor kebudayaan.
Plt Kepala Disdikbud Parigi Moutong, Sunarti, mengatakan, hasil evaluasi tahunan memperlihatkan mayoritas indikator berada dalam kategori sangat baik, meskipun masih terdapat beberapa aspek yang membutuhkan perhatian lebih serius.
“Sebagian besar indikator kinerja tahun 2025 menunjukkan capaian sangat baik karena realisasinya melampaui target. Namun, masih ada indikator yang perlu mendapat perhatian, khususnya pada jenjang SMP/MTs,” kata Sunarti di Parigi, Jumat (1/5/2026).
Pada sektor pendidikan dasar, rata-rata lama sekolah tercatat mencapai 8,07 tahun dari target 7,97 tahun atau setara 101,2 persen capaian. Sementara harapan lama sekolah berada pada angka 12,53 tahun dari target 12,56 tahun, atau 99,7 persen capaian.
Capaian itu menunjukkan adanya perbaikan keberlanjutan pendidikan masyarakat, terutama pada jenjang pendidikan dasar.
Tidak hanya itu, akses pendidikan usia dini juga mengalami peningkatan signifikan. Angka Partisipasi Kasar (APK) Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) tercatat mencapai 98,63 persen dari target 94,26 persen.
Pada jenjang sekolah dasar, APK mencapai 98,01 persen dari target 92,62 persen, sementara Angka Partisipasi Murni (APM) SD/MI berada di angka 92,55 persen dari target 92,41 persen.
“Capaian ini menunjukkan peningkatan akses pendidikan dasar yang cukup signifikan, terutama pada PAUD dan SD,” ujar Sunarti.
Selain akses, kualitas layanan pendidikan juga memperlihatkan perkembangan yang cukup kuat. Nilai Rapor Pendidikan meningkat dari target 51,07 menjadi 61,78, sementara capaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) pendidikan naik dari target 78,36 menjadi 82,14.
Di sisi kelembagaan, hampir seluruh sekolah di Parigi Moutong kini telah terakreditasi. Data Disdikbud mencatat persentase sekolah terakreditasi mencapai 99,63 persen dari target 75,27 persen.
Menurut Sunarti, capaian itu menjadi indikator bahwa kualitas tata kelola pendidikan di daerah tersebut mulai menunjukkan penguatan.
“Indikator kualitas layanan pendidikan menunjukkan tren yang sangat baik, baik dari sisi akreditasi maupun standar pelayanan,” katanya.
Sementara itu, sektor kebudayaan yang juga berada di bawah naungan Disdikbud turut menunjukkan perkembangan positif. Penyelenggaraan festival seni dan budaya serta pengembangan kesenian daerah tercatat melampaui target tahunan.
Meski demikian, Sunarti menegaskan bahwa capaian tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk berpuas diri. Menurut dia, target yang sudah tercapai justru harus menjadi dasar untuk menetapkan standar yang lebih tinggi pada tahun berikutnya.
“Kami telah mencapai target yang ditetapkan, namun capaian tersebut tidak boleh membuat kita terlena. Apa yang sudah diraih harus terus ditingkatkan, dengan menetapkan target yang lebih tinggi di masa mendatang,” ujarnya.
Ia berharap keberhasilan yang tercatat dalam indikator kinerja itu dapat berbanding lurus dengan kualitas sumber daya manusia yang dihasilkan.
Sebab, kata dia, ukuran keberhasilan pendidikan bukan hanya pada angka capaian, melainkan pada kemampuan melahirkan generasi yang mampu bersaing di tingkat yang lebih luas.
“Outputnya adalah menciptakan anak yang mampu bersaing dengan daerah lain, sehingga di manapun mereka menimba ilmu, mereka bisa masuk sesuai harapan,” kata Sunarti.
Secara keseluruhan, hasil evaluasi Disdikbud Parigi Moutong menunjukkan bahwa sektor pendidikan dan kebudayaan bergerak ke arah yang lebih baik. Namun, di balik capaian itu, masih tersimpan pekerjaan rumah yang harus dituntaskan agar kemajuan tidak berhenti pada statistik, melainkan benar-benar dirasakan masyarakat.*








