PARIGI MOUTONG – Bupati Parigi Moutong, H. Erwin Burase, mengakui tantangan peningkatan mutu pendidikan di daerahnya masih cukup kompleks, mulai dari tingginya angka anak tidak sekolah, keterbatasan infrastruktur pendidikan, hingga sulitnya akses belajar di wilayah terpencil.
Hal itu disampaikan Erwin Burase usai memimpin upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 di halaman Kantor Bupati Parigi Moutong, Sabtu, 2 Mei 2026.
Dalam evaluasi yang dilakukan pemerintah daerah, sektor pendidikan di Kabupaten Parigi Moutong menunjukkan tren positif sepanjang 2025. Namun, persoalan anak tidak sekolah masih menjadi pekerjaan rumah yang harus segera ditangani.
“Kemarin pertemuan di provinsi, disebutkan bahwa Kabupaten Parigi Moutong tertinggi anak tidak sekolahnya, kurang lebih 13 ribu,” ungkap Erwin Burase.
Ia menegaskan, data tersebut tidak bisa diterima begitu saja tanpa verifikasi lapangan agar penanganan yang dilakukan benar-benar tepat sasaran.
“Jangan kita terima begitu saja data tanpa kita cek. Orangnya siapa, di mana, supaya tepat sasaran dan kita tahu apa yang harus dilakukan,” tegasnya.
Menurut Erwin, sebaran anak tidak sekolah yang mencapai lebih dari 13 ribu orang banyak ditemukan di wilayah-wilayah terpencil, terutama di Kecamatan Tinombo, Tomini, dan Palasa.
Kondisi geografis serta minimnya fasilitas pendidikan menjadi faktor utama yang memengaruhi tingginya angka tersebut. Sejumlah desa di wilayah terpencil, kata dia, masih belum memiliki akses internet yang memadai.
“Desa-desa terpencil di Kabupaten Parigi Moutong itu belum memiliki akses internet. Kondisinya sangat memprihatinkan dan sebagian besar belum tersentuh bantuan, baik perumahan guru, kepala sekolah maupun ruang-ruang belajar,” ujarnya.
Untuk mengatasi persoalan itu, Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong terus mengupayakan berbagai langkah, termasuk melobi anggaran ke pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah untuk mendukung revitalisasi sekolah serta penguatan fasilitas pendidikan.
“Upaya melobi anggaran masih terus dilakukan, seperti pengusulan penambahan program revitalisasi sekolah dan terutama pembelajaran digitalisasi,” katanya.
Selain persoalan infrastruktur sekolah, akses siswa menuju satuan pendidikan juga menjadi perhatian pemerintah daerah. Sebab, di sejumlah wilayah, siswa masih harus menghadapi keterbatasan sarana penyeberangan untuk menuju sekolah.
Tahun ini, Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong mendapat dukungan dari Kodam XXIII/Palaka wira melalui program pembangunan Jembatan Garuda untuk menunjang akses pendidikan masyarakat.
“Sudah dibangun dua unit di Kabupaten Parigi Moutong. Pak Pangdam bilang ada beberapa unit lagi yang bisa diturunkan, makanya saya sudah perintahkan Dinas PUPRP dan Bappelitbangda untuk mengusulkan data desa yang membutuhkan jembatan,” jelasnya.
Di sisi lain, pemerintah daerah juga telah mengusulkan penyediaan fasilitas rumah dinas, kendaraan operasional, dan insentif bagi guru yang bertugas di daerah terpencil kepada pemerintah pusat.
Namun, upaya itu menghadapi kendala administratif karena sejumlah desa yang membutuhkan bantuan telah berstatus desa mandiri sehingga tidak lagi memenuhi syarat untuk menerima program tertentu dari pemerintah pusat.
“Padahal daerah masih membutuhkan dana itu. Makanya, saya minta ke Dinas PMD untuk mempelajari kembali apakah mungkin bisa menurunkan status agar mendapatkan bantuan dari pemerintah pusat atau ada solusi lain,” ujarnya.
Sebagai langkah sementara, Erwin mengaku akan mengupayakan alokasi anggaran daerah untuk pemberian insentif bagi guru di wilayah terpencil sebagai bentuk komitmen pemerintah daerah dalam mendukung pemerataan pendidikan.
“Semoga tahun depan kita sudah bisa anggarkan, karena saat ini kondisi anggaran daerah masih belum memungkinkan,” imbuhnya.
Momentum Hardiknas 2026, lanjut Erwin, menjadi refleksi bagi seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat komitmen bersama dalam meningkatkan kualitas pendidikan, terutama di wilayah-wilayah yang masih tertinggal, agar akses pendidikan dapat dirasakan secara merata oleh seluruh masyarakat.*








Comments 1