PARIGI MOUTONG – Penanganan pascabanjir bandang di Desa Avolua, Kecamatan Parigi Utara, Kabupaten Parigi Moutong, masih berlangsung. Meski banjir telah surut dan arus lalu lintas kembali normal, sebanyak 14 kepala keluarga (KK) atau 48 jiwa masih mengungsi.
Kebutuhan air bersih menjadi salah satu perhatian utama dalam penanganan tersebut. Fasilitas Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) di Dusun II terdampak banjir sehingga aliran air belum sepenuhnya kembali normal.
Plt. Kepala Pelaksana BPBD Parigi Moutong, Rivai, mengatakan penanganan terhadap warga dan rumah terdampak masih dilakukan bersama lintas sektor.
“Banjir sudah surut, tetapi penanganan masih kami lakukan. Air Pamsimas juga belum mengalir sepenuhnya, sehingga kebutuhan air bersih masih menjadi perhatian,” kata Rivai.
Berdasarkan data terbaru BPBD Parigi Moutong, banjir berdampak terhadap 73 KK atau 251 jiwa di Dusun II Desa Avolua. Mereka terdiri atas satu ibu hamil, empat bayi, 17 balita, dan 16 lansia.
Dari jumlah tersebut, 14 KK atau 48 jiwa masih berada di lokasi pengungsian. Mereka terdiri atas lima lansia, satu balita, dua bayi, sembilan anak-anak, dan 31 orang dewasa. Jumlah pengungsi tersebut terdiri atas 24 laki-laki dan 24 perempuan.
Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa banjir bandang tersebut. Namun, dampak terhadap permukiman dan fasilitas warga cukup besar.
Sebanyak 57 rumah terdampak banjir. Dari jumlah itu, 11 unit mengalami rusak berat, sedangkan 46 rumah lainnya mengalami kerusakan atau terendam.
Sejumlah aset dan kendaraan juga terdampak. Pagar pabrik durian mengalami kerusakan, sementara sembilan sepeda motor, dua unit forklift, dan empat mobil dilaporkan terendam.
Selain Pamsimas di Dusun II, fasilitas PNPM Tobelo di Dusun I juga turut terdampak banjir.
Untuk mempercepat pemulihan, tim gabungan melakukan asesmen dan kaji cepat, mendistribusikan air bersih, serta membersihkan rumah dan ruas jalan yang terdampak. Posko darurat dan tenda pengungsian juga telah didirikan untuk mendukung penanganan warga.
Petugas turut menyalurkan makanan siap saji kepada warga terdampak dan melakukan normalisasi sungai sebagai bagian dari upaya pemulihan pascabanjir.
Menurut Rivai, kebutuhan warga yang masih diperlukan meliputi makanan siap saji, perlengkapan bayi, pakaian layak pakai, air bersih, tenda pengungsi, serta logistik penanggulangan bencana. Normalisasi sungai dan pembersihan rumah warga terdampak juga masih dibutuhkan.
Penanganan melibatkan BPBD Parigi Moutong, BPBD Provinsi Sulawesi Tengah, Pemerintah Kecamatan Parigi Utara, TNI/Polri, Damkar dan Satpol PP Parigi Moutong, Basarnas Palu, Tagana, BPJN Sulawesi Tengah, Dinas Perhubungan Parigi Moutong, PMI, WIZ Parigi Moutong, BAZNAS Provinsi Sulawesi Tengah, BAZNAS Parigi Moutong, komunitas pecinta alam, aparat Desa Avolua, masyarakat, dan relawan.
Banjir bandang terjadi pada Rabu, 26 Agustus 2026 sekitar pukul 01.00 WITA. Hujan dengan intensitas sangat tinggi menyebabkan air sungai meluap hingga menggenangi jalan dan permukiman warga.
Hingga laporan terbaru, kondisi lalu lintas telah kembali normal dan genangan banjir telah surut. Namun, pemulihan fasilitas air bersih, pembersihan lingkungan, serta penanganan rumah warga yang terdampak masih terus dilakukan.









