PARIGI MOUTONG – Bupati Parigi Moutong H. Erwin Burase meminta seluruh unsur penanggulangan bencana memperkuat pencegahan dan deteksi dini dalam menghadapi ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) serta kekeringan.
Pesan itu disampaikan Erwin saat memimpin apel siaga darurat bencana alam dan kebakaran hutan dan lahan sekaligus gelar pasukan dan peralatan menghadapi Karhutla dan kekeringan di Markas Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP) 918/Matufu Maliuntinufu, Desa Labuan, Kecamatan Moutong, Sabtu, 19 September 2026.
Apel tersebut melibatkan unsur TNI, Polri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), pemadam kebakaran, perangkat daerah, pemerintah kecamatan dan desa, relawan, tenaga kesehatan, Linmas, Satpol PP, Tagana, PMI, serta unsur terkait lainnya.
“Apel siaga pada hari ini merupakan bagian momentum penting dari komitmen pemerintah daerah Kabupaten Parigi Moutong dalam meningkatkan kesiapsiagaan daerah menghadapi musim bencana, khususnya bencana hutan dan lahan,” kata Erwin.
Menurut Erwin, kondisi cuaca dan musim kemarau dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. Pada saat yang sama, kekeringan berpotensi menyebabkan kekurangan air bagi masyarakat, terutama untuk kebutuhan pertanian, peternakan, serta berbagai aktivitas sosial dan ekonomi.
Karena itu, ia menilai ancaman bencana tidak cukup dihadapi dengan tindakan reaktif. Kesiapsiagaan harus dibangun secara terencana, sistematis, terpadu, dan berkelanjutan.
“Kesiapan dan pelaksanaan apel siaga yang kita laksanakan dan kita saksikan bersama hari ini harus dimaknai sebagai bentuk kesiapan nyata seluruh unsur dalam menghadapi setiap kemungkinan yang terjadi,” ujarnya.
Erwin menekankan, pencegahan dan deteksi dini harus menjadi perhatian utama dalam menghadapi ancaman Karhutla. Sinergi antara TNI, Polri, BPBD, pemadam kebakaran, perangkat daerah, pemerintah kecamatan dan desa, dunia usaha, relawan, hingga masyarakat perlu terus diperkuat.
Ia juga meminta kesiapan peralatan penanggulangan bencana diperiksa secara menyeluruh, mulai dari kendaraan operasional, mesin pemadam dan pompa air, selang, alat komunikasi, perlengkapan keselamatan, hingga peralatan pendukung lainnya.
Menurutnya, kesiapan peralatan harus dibarengi dengan pelatihan dan penerapan prosedur keselamatan. Personel tidak boleh hanya berfokus memadamkan api ketika kebakaran terjadi, tetapi juga memahami langkah pencegahan untuk menekan risiko.
“Jangan terlalu semangat kita untuk mematikan api apabila terjadi kebakaran, tapi kita lupa untuk mempersiapkan, mencegah. Sehingga jangan sampai kita sendiri yang menjadi korban,” tegas Erwin.
Ia menambahkan, keberanian dalam menjalankan tugas harus diimbangi dengan kesabaran, perhitungan, dan kepatuhan terhadap prosedur keselamatan.
“Keberanian dalam menjalankan tugas tentu harus senantiasa diimbangi dengan kesabaran, perhitungan, dan kepatuhan terhadap prosedur keselamatan,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Erwin juga mengapresiasi respons cepat jajaran Yonif TP 918 dalam menangani sejumlah kejadian kebakaran sehingga api tidak meluas.
“Begitu ada kejadian, masyarakat langsung melaporkan dan ditangani dengan cepat. Alhamdulillah, kita terselamatkan dengan bencana kebakaran yang lebih luas,” katanya.
Ia meminta komunikasi antara masyarakat, pemerintah desa, kecamatan, pemerintah kabupaten, dan jajaran batalyon terus dilakukan agar setiap kejadian dapat segera ditangani.
Terkait kondisi cuaca, Erwin menjelaskan wilayah Parigi hingga Kasimbar masih relatif sering diguyur hujan. Namun, kewaspadaan terhadap Karhutla tetap diperlukan di wilayah lainnya.
Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi fenomena belokan arah angin di wilayah Parigi Moutong yang menyebabkan perlambatan angin, sehingga meningkatkan kelembapan dan pembentukan awan di sejumlah wilayah.
Erwin berharap seluruh unsur yang terlibat dalam penanggulangan Karhutla dan kekeringan menjalankan tugas dengan mengedepankan kesiapsiagaan, pencegahan, dan keselamatan.
“Selamat bertugas, semoga sukses, dan kembali dengan selamat,” pungkasnya.*









