PARIGI MOUTONG – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, menyoroti dampak kerusakan lingkungan di kawasan pesisir yang diduga akibat aktivitas pertambangan, terutama terkait pencemaran air, udara, dan terganggunya ekosistem laut.
Persoalan tersebut mengemuka dalam peringatan Hari Bumi Sedunia yang dirangkaikan dengan diskusi lingkungan serta penanaman mangrove di pesisir Desa Mertasari, Kecamatan Parigi, Rabu (22/4/2026).
Sekretaris DLH Parigi Moutong, Tri Nugraha Adhyarta, mengatakan bahwa aktivitas pertambangan memberikan tekanan serius terhadap lingkungan. Limbah dari kegiatan tersebut berpotensi mengalir dari daratan hingga ke laut dan berdampak langsung pada biota yang menjadi sumber pangan masyarakat.
“Dampaknya tidak hanya pada lingkungan, tetapi juga bisa berpengaruh pada kesehatan masyarakat ke depan. Bisa jadi, ikan yang kita konsumsi sehari-hari telah terkontaminasi zat berbahaya akibat limbah pertambangan. Jika ini terjadi, bakal menimbulkan persoalan besar,” ujarnya.
Ia menjelaskan, persoalan lingkungan di daerah saat ini semakin kompleks. Di satu sisi, aktivitas pertambangan menjadi sumber penghidupan masyarakat, tetapi di sisi lain berpotensi melanggar aturan serta merusak lingkungan.
DLH, kata dia, tetap menjalankan fungsi pengawasan dan penegakan regulasi, sekaligus mendorong solusi bersama agar kebutuhan ekonomi masyarakat tetap terpenuhi tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan.
Tri menegaskan bahwa penanganan persoalan lingkungan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah daerah, melainkan membutuhkan kolaborasi berbagai pihak, termasuk pegiat lingkungan, komunitas, dan masyarakat.
Sebagai langkah nyata, penanaman mangrove terus dilakukan di kawasan pesisir Teluk Tomini, termasuk di Desa Mertasari, sebagai upaya rehabilitasi lingkungan dan mengurangi dampak pencemaran.
Menurut dia, mangrove tidak hanya berfungsi menahan abrasi, tetapi juga mampu menyaring sebagian limbah sebelum masuk ke laut. Namun, fungsi tersebut dinilai tidak akan optimal tanpa pengendalian pencemaran dari sumbernya.
DLH juga mendorong kegiatan pelestarian lingkungan yang diiringi dengan edukasi kepada masyarakat, terutama pelajar, guna meningkatkan kesadaran sejak dini.
Ia mengakui, peran komunitas seperti Kelompok Pecinta Alam di Parigi Moutong cukup signifikan dalam menjaga konsistensi gerakan pelestarian lingkungan, antara lain melalui program “1 Juta Mangrove untuk Teluk Tomini”.
“Mereka tetap aktif melakukan berbagai kegiatan secara mandiri, meskipun dengan keterbatasan dukungan,” ungkapnya.
Di sisi lain, Tri menyoroti tingginya volume limbah, termasuk sampah, yang bermuara ke laut sehingga memperberat beban ekosistem yang memiliki keterbatasan dalam menampung pencemaran.
“Kalau tidak ada upaya bersama untuk mengurangi dari sumbernya, maka kemampuan alam tidak akan cukup menanggung beban tersebut,” tegasnya.
Ke depan, DLH Parigi Moutong berkomitmen memperkuat upaya pelestarian lingkungan melalui dukungan terhadap program rehabilitasi, peningkatan edukasi, serta kolaborasi lintas pihak.
“Lingkungan ini adalah tanggung jawab bersama. Harus dijaga agar tetap lestari dan bisa dinikmati oleh generasi yang akan datang,” pungkasnya.*








