PARIGI MOUTONG – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Parigi Moutong menilai rendahnya mutu pendidikan yang tercermin dalam Rapor Pendidikan pada suatu wilayah tidak selalu disebabkan oleh kualitas mengajar guru, melainkan juga dipengaruhi oleh ketidakteraturan pelaporan data digital di satuan pendidikan.
Kepala Bidang Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Disdikbud Parigi Moutong, Farid, mengatakan banyak sekolah telah menjalankan berbagai program pembelajaran, tetapi hasil pelaksanaannya tidak tercatat dalam sistem Rapor Pendidikan karena kendala teknis maupun rendahnya literasi teknologi.
“Rendahnya rapor itu bukan karena guru kita tidak bagus. Bisa jadi karena tidak melek teknologi. Yang harus dilaporkan sudah ada hasilnya, tapi tidak diisi. Contohnya kegiatan pesantren kilat, diprogramkan dan dilaksanakan, tapi tidak dilaporkan ke sistem pusat. Akhirnya terbaca rendah oleh sistem,” ujar Farid saat ditemui diruangannya, Selasa, 28/4/2026.
Menurut Farid, kondisi tersebut menjadi perhatian Disdikbud Parigi Moutong sehingga Bidang GTK menetapkan program prioritas berupa penguatan literasi digital bagi kepala sekolah dan guru, disertai pendampingan berkelanjutan dalam pengelolaan data pendidikan.
Setelah pelatihan literasi digital, para guru dijadwalkan mengikuti pendampingan pembuatan konten media ajar serta optimalisasi pengisian Rapor Pendidikan sebagai upaya meningkatkan kualitas pelaporan dan pembelajaran.
Sebagai bagian dari strategi tersebut, Disdikbud Parigi Moutong telah menetapkan 11 sekolah sebagai sekolah percontohan yang memiliki capaian literasi dan numerasi dengan grade A dan B.
Farid menjelaskan, sekolah-sekolah percontohan itu tidak hanya berasal dari wilayah perkotaan, tetapi juga dari kecamatan di wilayah pinggiran, seperti Kecamatan Sausu hingga Kecamatan Taopa.
“Sekolah pilot ini tidak hanya dalam kota. Ada yang dari Kecamatan Sausu hingga Taopa. Contohnya di Taopa, mereka jadi pilot untuk wilayah Moutong karena kepala sekolahnya sangat aktif. Jadi bukan soal fasilitas atau jaringan internet saja, tapi soal keseriusan,” ungkap Farid.
Ia menambahkan, pihaknya telah menyusun jadwal pendampingan intensif bagi para pendidik. Program itu akan dilanjutkan bulan depan dengan pendampingan pembuatan konten media ajar, kemudian dievaluasi untuk mengukur dampaknya terhadap proses belajar siswa.
Farid menegaskan, target utama dari rangkaian program tersebut adalah memastikan seluruh siswa di Parigi Moutong memiliki kemampuan dasar yang memadai, terutama dalam literasi dan numerasi.
“Jangan sampai anak-anak kita tidak bisa membaca, tidak bisa bercerita, apalagi tidak tahu perhitungan dasar. Target kita adalah hasil akhirnya, dan basisnya adalah laporan yang akurat,” tutup Farid.*








Comments 1