PARIGI MOUTONG – Kepedulian terhadap rendahnya kemampuan literasi baca tulis anak mendorong sekelompok guru muda di Kecamatan Toribulu membentuk komunitas Generasi Pendidik Muda (GPM). Komunitas ini hadir sebagai ruang belajar alternatif bagi anak-anak usia sekolah yang belum lancar membaca dan menulis.
GPM berdiri sejak 2024 dan berfokus pada pendampingan literasi dasar bagi anak-anak yang masih mengalami kesulitan membaca dan menulis. Temuan di lapangan menunjukkan masih adanya anak tingkat sekolah dasar, bahkan sekolah menengah pertama, yang belum menguasai kemampuan baca tulis dengan baik.
Ketua GPM, Widad Zahira, mengatakan inisiatif tersebut lahir dari keprihatinan para guru muda terhadap kondisi literasi anak di wilayah tersebut.
“Kami menemukan beberapa kasus anak usia sekolah yang belum mahir membaca dan menulis. Kondisi ini cukup memprihatinkan dan menjadi motivasi kami untuk bergerak,” ujar Widad saat ditemui di Sekretariat GPM Toribulu, Kamis, 5 Februari 2026.
Berangkat dari kepedulian itu, para relawan GPM membentuk ruang belajar nonformal yang memanfaatkan fasilitas umum, salah satunya Pasar Tradisional Toribulu. Lokasi tersebut dipilih karena mudah dijangkau anak-anak yang berada di sekitar pusat aktivitas masyarakat.
Kegiatan belajar membaca dan menulis dilaksanakan satu kali dalam sepekan, setiap Jumat sore. Meski berlangsung di luar lingkungan sekolah, GPM tetap menerapkan metode pembelajaran yang terstruktur dan menyenangkan.
Dalam pelaksanaannya, anak-anak dikelompokkan sesuai dengan tingkat kemampuan membaca. Selain belajar mengeja dan menulis, mereka juga diajak mengikuti permainan literasi, seperti tebak huruf, menyusun kata, dan membaca secara bergilir guna menciptakan suasana belajar yang lebih interaktif.
“Kami melihat anak-anak sangat antusias. Dengan permainan, mereka jadi lebih percaya diri’,” jelas Widad.
GPM mengusung slogan “Grow to Give”, yang dimaknai sebagai semangat bertumbuh untuk memberi. Bagi para relawan berlatar belakang pendidik, kegiatan ini menjadi wujud kontribusi nyata dalam memperluas akses pendidikan, khususnya bagi anak-anak yang membutuhkan pendampingan tambahan di luar sekolah formal.
“Sebagai pendidik, kami ingin terus bertumbuh dengan cara berbagi ilmu, meskipun di luar lingkungan sekolah,” tambahnya.
Meski dilaksanakan secara sederhana, kegiatan GPM dinilai memberi dampak langsung terhadap perkembangan anak, baik dari segi kemampuan membaca, kepercayaan diri, maupun minat terhadap literasi.
Widad bersama para relawan berharap kehadiran GPM tidak hanya membantu anak-anak menjadi lancar membaca dan menulis, tetapi juga menumbuhkan budaya gemar membaca sejak usia dini.
“Sahabat literasi, mari beraksi, gali potensi,” tutup Widad.
Melalui gerakan literasi yang tumbuh dari ruang publik, GPM Toribulu menunjukkan bahwa upaya pendidikan dapat lahir dari mana saja selama didorong oleh kepedulian dan semangat berbagi.*







