PARIGI MOUTONG, SONGULARA.COM – Satuan Tugas (Satgas) Bahan Bakar Minyak (BBM) Kabupaten Parigi Moutong berkoordinasi dengan PT Pertamina Patra Niaga di Donggala untuk mengevaluasi pola pengiriman BBM menyusul antrean kendaraan yang memanjang di SPBU Kampal. Satgas juga mendata pengecer yang diduga menjual BBM di atas harga standar yang disepakati.
Ketua Satgas BBM Kabupaten Parigi Moutong, Ismet Ibrahim, mengatakan evaluasi distribusi diperlukan untuk mengurangi antrean yang terjadi meski stok BBM di SPBU Kampal, berdasarkan hasil peninjauan bersama unsur Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian, disebut masih mencukupi.
Salah satu hal yang menjadi perhatian Satgas adalah pola pengiriman menggunakan mobil tangki berkapasitas 16 ton yang selama ini membawa masing-masing 8 ton solar dan 8 ton pertalite.
Menurut Ismet, pola tersebut perlu dievaluasi agar pengiriman satu jenis BBM dapat dilakukan dengan muatan penuh.
“Seharusnya biar tidak menimbulkan antrean, kalau bisa satu truk itu 16 ton di drop sekaligus,” ujar Ismet.
Satgas telah menyampaikan persoalan tersebut kepada PT Pertamina Patra Niaga di Donggala. Ismet berharap penyesuaian pola pengiriman dapat membantu memperlancar pasokan dan mengurangi antrean kendaraan di SPBU.
Selain mengevaluasi distribusi, Satgas menyoroti kenaikan harga BBM di tingkat pengecer. Berdasarkan temuan di lapangan, BBM dalam botol putih yang sebelumnya dijual Rp13.000 kini mencapai Rp15.000. Sementara itu, BBM dalam botol besar bekas air mineral naik dari Rp20.000 menjadi Rp30.000.
Ismet mengatakan Satgas telah mencatat nama dan alamat pengecer yang diduga menjual BBM di atas harga standar yang disepakati. Satgas juga telah mengimbau para pengecer agar mengikuti arahan yang disampaikan.
“Kami sudah himbau kepada pengusaha atau pengecer-pengecer yang ada, agar mereka bisa mengikuti apa yang kami arahkan,” kata Ismet.
Jika pelanggaran masih ditemukan, Satgas berencana mengambil tindakan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku serta menyerahkan penanganannya kepada aparat penegak hukum.
Untuk membahas persoalan distribusi secara lebih menyeluruh, Satgas juga berencana memanggil para pengawas SPBU dari wilayah Tomoli hingga Sausu. Rapat evaluasi tersebut akan membahas langkah yang diperlukan untuk mengantisipasi antrean BBM di Kabupaten Parigi Moutong.
Sementara itu, Pengawas SPBU Kampal, Julkifli, mengatakan pasokan BBM yang diterima SPBU selama ini berjalan normal. Ia menduga lonjakan antrean terjadi secara tiba-tiba, meski berdasarkan perhitungan internal, stok yang tersedia masih dalam kondisi normal.
“Tiba-tiba langsung membludak. Entah isu apa yang beredar di luar sampai antrean tiba-tiba membludak. Padahal kan kalau kita hitungannya stok, normal,” ujar Julkifli.
Julkifli menjelaskan, pengiriman BBM dari depot membutuhkan waktu tempuh hingga lima jam. Keterlambatan pasokan dari Depot Donggala juga menjadi salah satu kendala dalam penyaluran BBM ke SPBU.
Ia mengatakan pola penyaluran kini telah diubah. Pertalite dikirim lebih dahulu sebanyak 16 ton pada siang hari, sedangkan pasokan solar menyusul pada malam hari.
SPBU Kampal juga masih menunggu perbaikan mesin dispenser Pertamax yang sempat mengalami gangguan. Setelah berfungsi kembali, layanan tersebut diharapkan dapat menjadi alternatif bagi pengendara.*







