PARIGI MOUTONG – Dinas Kesehatan Kabupaten Parigi Moutong menginstruksikan seluruh kepala Puskesmas untuk membentuk tim kesehatan guna mengantisipasi risiko kesehatan akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang terjadi di 22 titik sepanjang Januari hingga Februari 2026.
Instruksi tersebut disampaikan menyusul potensi peningkatan status bencana kebakaran, sehingga kesiapsiagaan layanan kesehatan dinilai perlu ditingkatkan sejak dini.
“Seluruh 24 Puskesmas sudah kami instruksikan melalui WhatsApp agar segera membentuk tim antisipasi. Hal ini penting karena kemungkinan status bencana kebakaran ini akan naik, sehingga tim kesehatan kita harus siap turun,” ujar Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Parigi Moutong, Darlin, saat ditemui pada Selasa, (3/2).
Sebagai langkah konkret, Dinas Kesehatan juga telah memerintahkan Kepala Puskesmas Pangi untuk segera menerjunkan tim medis ke lokasi kebakaran di Desa Avolua, Kecamatan Parigi Utara. Tim tersebut bertugas memantau kondisi lapangan serta melakukan upaya pencegahan terhadap dampak kesehatan yang mungkin timbul akibat paparan asap.
“Saya sudah perintahkan Kapus Pangi untuk turunkan tim ke Avolua. Jika kondisi asap pekat, segera bagikan masker kepada warga,” tegasnya.
Darlin menjelaskan, tim kesehatan yang diterjunkan terdiri atas tenaga medis pelayanan korban serta tim surveilans yang bertugas melakukan pengamatan sistematis dan berkelanjutan terhadap data dan informasi kesehatan di lapangan, sekaligus mengukur potensi risiko yang dapat muncul.
Menurutnya, setiap Puskesmas di Kabupaten Parigi Moutong memiliki tenaga kesehatan dengan latar belakang ilmu epidemiologi yang berperan sebagai surveilans. Mereka bertugas mendeteksi sejak dini kemungkinan munculnya wabah atau gangguan kesehatan sebelum dampaknya meluas ke masyarakat.
“Tim surveylans ini berfungsi melihat situasi daerah dan mendeteksi sumber penularan penyakit, misalnya apakah ISPA disebabkan oleh cuaca, asap, atau penularan antarmanusia,” jelas Darlin.
Ia menambahkan, hingga saat ini Dinas Kesehatan belum menerima laporan adanya lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang secara spesifik disebabkan oleh paparan asap Karhutla.
Meski demikian, Darlin menekankan pentingnya peran tim surveilans untuk membedakan antara kunjungan ISPA harian yang bersifat rutin dengan kasus yang murni diakibatkan oleh asap kebakaran.
“Kami sudah meminta seluruh Puskesmas melapor ke grup Dinkes jika ada kasus. Intinya, tim kami sudah siap sedia jika ada korban yang jatuh akibat situasi ini,” tutupnya.*







