PARIGI MOUTONG – Motif Batik Sambulu Gana (Saga) Kabupaten Parigi Moutong segera memperoleh pengakuan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) dari Kementerian Hukum Republik Indonesia. Sertifikat tersebut dijadwalkan diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong pada 17 Agustus 2026, bertepatan dengan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Parigi Moutong, Hestiwati Nanga, SKM, mengatakan pengakuan HAKI menjadi langkah penting untuk memberikan perlindungan terhadap motif Batik Sambulu Gana yang dikembangkan sebagai salah satu identitas daerah.
“Alhamdulillah, kami sudah dihubungi Kementerian Hukum, dan 17 Agustus nanti sertifikatnya akan diserahkan kepada kita. Ini menjadi kebanggaan dan motivasi bagi kita, karena motif Sambulu Gana sudah memiliki perlindungan HAKI,” kata Hestiwati saat ditemui di sela-sela kegiatan Lomba Fashion Show Batik Sambulu Gana di Parigi, Sabtu, 15 Agustus 2026.
Menurut Hestiwati, motif Sambulu Gana tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga mengandung filosofi yang berkaitan dengan semangat kebersamaan, kerja sama, etika, dan akhlak dalam kehidupan masyarakat.
“Filosofi Sambulu Gana itu bermakna kita bekerja sama, kemudian dari sisi etika dan akhlak. Jadi ini bukan sekadar motif, tetapi memiliki nilai dan filosofi yang harus kita pahami dan jadikan patokan bersama,” ujarnya.
Pengakuan HAKI tersebut diharapkan semakin memperkuat posisi Batik Sambulu Gana sebagai identitas Kabupaten Parigi Moutong sekaligus membuka peluang untuk memperkenalkannya lebih luas, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Hestiwati mengungkapkan, motif Batik Sambulu Gana mulai mendapat perhatian dari luar daerah. Ia mengatakan seorang desainer yang telah dikenal luas berencana menggunakan motif tersebut pada model yang akan tampil di Istanbul dan Dubai.
“Kurang lebih satu minggu lalu saya dihubungi seorang desainer yang sudah ternama. Motif Sambulu Gana ini akan beliau gunakan pada modelnya untuk tampil di Istanbul, Dubai. Mudah-mudahan ini menjadi langkah ke depan agar motif Parigi Moutong semakin dikenal secara nasional maupun internasional,” katanya.
Upaya memperluas penggunaan Batik Sambulu Gana juga dilakukan Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong melalui Fashion Show Batik Sambulu Gana yang digelar dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Auditorium Kantor Bupati Parigi Moutong, Sabtu, 15 Agustus 2026.
Kegiatan tersebut diikuti 75 peserta dari berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong. Peserta terdiri atas kepala dan sekretaris OPD, kepala bidang, kepala bagian, pejabat fungsional, hingga ASN dan PPPK.
Panitia Pelaksana, Eny Susilowati, mengatakan kegiatan tersebut menjadi sarana untuk mempromosikan Batik Sambulu Gana yang mulai diperkenalkan sejak 2025.
“Fashion Show Batik Sambulu Gana kami gelar dalam rangka menyambut dan memeriahkan HUT RI. Kegiatan ini diikuti kepala dan sekretaris OPD, kepala bidang, kepala bagian, pejabat fungsional hingga staf ASN dan PPPK,” ungkap Eny saat ditemui di sela-sela kegiatan.

Menurut Eny, motif Sambulu Gana ditetapkan setelah melalui berbagai tahapan, salah satunya melalui sayembara yang diadakan Dekranasda.
Melalui fashion show tersebut, pemerintah ingin menunjukkan bahwa Batik Sambulu Gana tidak hanya cocok digunakan sebagai busana resmi, tetapi juga dapat dikembangkan dalam berbagai desain untuk beragam kesempatan.
“Kami ingin mengedukasi bahwa Batik Sambulu Gana bisa digunakan untuk busana acara hajatan, santai, fashionable, serta memiliki ragam kombinasi warna,” ujarnya.
Eny mengatakan Fashion Show Batik Sambulu Gana direncanakan menjadi agenda rutin tahunan. Ke depan, kegiatan tersebut akan melibatkan peserta dari berbagai kategori dan tidak hanya terbatas pada OPD di lingkungan Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong.
Perluasan peserta diharapkan dapat melahirkan berbagai karya dan desain baru yang mengombinasikan Batik Sambulu Gana dengan konsep busana yang lebih beragam.
Namun, pengembangan Batik Sambulu Gana masih menghadapi kendala pada ketersediaan bahan baku. Pada pelaksanaan perdana, jumlah peserta masih dibatasi karena produksi bahan Batik Sambulu Gana belum banyak. Kondisi tersebut membuat harga kain relatif mahal dan belum mudah dijangkau masyarakat luas.
“Kalau sudah banyak yang produksi, harganya pasti akan mudah dijangkau. Dengan begitu, peserta Fashion Show yang akan kami libatkan juga akan lebih luas,” jelasnya.
Untuk meningkatkan kapasitas produksi, Dekranasda bersama TP-PKK Kabupaten Parigi Moutong dan OPD terkait terus mendorong pengembangan keterampilan membatik di daerah. Salah satunya melalui pelatihan ecoprint dan rencana pelatihan batik cetak.
Pelatihan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kemampuan masyarakat sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pemenuhan produk dari luar daerah.
“Harapannya, setelah ada pelatihan batik cetak, kita tidak perlu lagi ke daerah lain. Kita bisa memproduksi sendiri di sini. Kalau melihat biaya yang harus dikeluarkan untuk mendatangkan dari luar, nominalnya juga lumayan,” jelasnya.
Selain pengembangan keterampilan, Dekranasda bersama Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong juga menyiapkan regulasi untuk memperkuat pengembangan dan penggunaan produk batik daerah.
Hestiwati mengatakan regulasi tersebut, termasuk rancangan Peraturan Bupati (Perbup), diharapkan dapat memberikan dasar dalam pengadaan produk Batik Sambulu Gana, termasuk terkait tarif atau harga.
“Regulasinya sudah dirancang, termasuk Peraturan Bupati (Perbup). Harapannya nanti di dalam regulasi itu ada pengaturan tarif atau harga, sehingga ketika dilakukan pengadaan sudah ada dasar yang mengatur dan harganya tidak lagi bervariasi,” pungkasnya. ***








