PARIGI MOUTONG – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Parigi Moutong memastikan program Listrik Masuk Sekolah tetap berjalan untuk mendukung digitalisasi pendidikan, terutama di wilayah terpencil yang masih mengalami keterbatasan akses listrik.
Kepala Bidang Manajemen Sekolah Dasar Disdikbud Parigi Moutong, Ibrahim, mengatakan, “Kami di daerah pada dasarnya hanya sebagai penerima manfaat dari program kerja sama antara PLN dan Kemendikdasmen,” saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu, 4 Februari 2026.
Program listrik masuk sekolah merupakan bagian dari kebijakan nasional percepatan digitalisasi pendidikan sebagaimana diamanatkan dalam keputusan presiden. Menurut Ibrahim, ketersediaan listrik menjadi instrumen awal yang sangat penting sebelum sekolah dapat memanfaatkan teknologi pendukung pembelajaran digital.
“Digitalisasi tidak mungkin berjalan tanpa listrik. Listrik ini yang nantinya mengaktifkan perangkat pendukung seperti jaringan internet, komputer, dan sarana pembelajaran berbasis digital lainnya,” jelasnya.
Program tersebut menyasar seluruh satuan pendidikan, tetapi prioritas diberikan kepada sekolah yang berada di wilayah terpencil dan selama ini belum terjangkau layanan listrik. Pada tahun sebelumnya, program telah direalisasikan di 17 sekolah di Parigi Moutong, terdiri dari satu taman kanak-kanak (TK), 11 sekolah dasar (SD), dan lima sekolah menengah pertama (SMP).
Untuk tahun 2026, Disdikbud Parigi Moutong masih menunggu kepastian jumlah sekolah penerima program berdasarkan hasil verifikasi Data Pokok Pendidikan (Dapodik) oleh Kemendikdasmen.
“Jumlah sekolah yang akan menerima program tahun ini masih menunggu hasil verifikasi pusat,” ungkap Ibrahim. Ia menegaskan, keberlanjutan dan cakupan program sangat bergantung pada ketersediaan anggaran dari pihak PLN sebagai pelaksana teknis.
“Sekolah yang belum memiliki listrik wajib menginput kondisinya di Dapodik. Data itu yang kemudian dilaporkan Kemendikdasmen ke PLN untuk ditindaklanjuti,” pungkasnya.*








Comments 1