PARIGI MOUTONG, SONGULARA.COM – Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (TPHP) Kabupaten Parigi Moutong mengawal pelaksanaan program peremajaan kakao seluas 6.550 hektare dengan dukungan 6,55 juta bibit pada tahun anggaran 2026. Program senilai Rp111,8 miliar tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah memperkuat produktivitas perkebunan sekaligus meningkatkan pendapatan petani.
Selain penyediaan bibit, program ini juga dilengkapi dukungan biaya pengolahan lahan sebesar Rp8,515 miliar yang dialokasikan kepada kelompok tani penerima manfaat.
Kepala Dinas TPHP Parigi Moutong, Dadan Priatna Jaya, menyampaikan hal tersebut dalam laporannya pada kegiatan penyerahan simbolis bibit kakao melalui Program Hilirisasi Perkebunan di Kecamatan Mepanga, Kamis (5/11/2026).
Dadan menjelaskan, alokasi peremajaan kakao tersebut merupakan tindak lanjut dari kesepakatan Bupati Parigi Moutong bersama Menteri Pertanian. Pada tahap awal, daerah memperoleh alokasi seluas 8.000 hektare. Namun, jumlah tersebut mengalami penyesuaian menyusul kebijakan efisiensi anggaran di kementerian.
Baca Juga
“Pada tahun 2026 Parigi Moutong mendapatkan alokasi peremajaan kakao seluas 6.550 hektare. Dari alokasi itu, jumlah bibit yang disalurkan mencapai 6.550.000 pohon,” jelasnya.
Untuk mendukung pelaksanaan program di tingkat petani, pemerintah juga menyiapkan insentif pengolahan lahan sebesar Rp1,3 juta per hektare. Dengan cakupan 6.550 hektare, total anggaran yang disiapkan mencapai Rp8,515 miliar.
“Jika dinilai dalam rupiah, bantuan bibit beserta pendampingannya setara dengan Rp111,8 miliar yang masuk ke Parigi Moutong. Belum termasuk insentif biaya pengolahan lahan bagi kelompok tani,” ungkapnya.
Pengawalan program tidak berhenti pada alokasi yang telah berjalan. Dinas TPHP juga mempersiapkan pelaksanaan tambahan program peremajaan kakao seluas 2.500 hektare atau setara 2,5 juta bibit.
Saat ini, ketersediaan bibit untuk tambahan program tersebut telah dipastikan dan prosesnya memasuki tahap persiapan verifikasi Calon Petani dan Calon Lokasi (CPCL).
Dadan berharap dukungan pihak balai dapat mempercepat penerbitan surat keputusan (SK) hasil verifikasi agar penyaluran bantuan tambahan tersebut bisa direalisasikan sesuai target minggu kedua November 2026.
Ia menjelaskan, tambahan alokasi 2.500 hektare memiliki sumber pendanaan berbeda dari program 6.550 hektare sebelumnya. Karena itu, proses administrasi dan verifikasinya juga mengikuti mekanisme tersendiri.
Dalam pelaksanaan distribusi tahap pertama, penyaluran bibit diprioritaskan di wilayah selatan Parigi Moutong. Kebijakan tersebut mempertimbangkan kondisi cuaca di sejumlah wilayah utara yang mengalami kekeringan dan cuaca ekstrem akibat fenomena El Nino.
“Penyaluran di wilayah selatan hampir rampung dan dilanjutkan ke wilayah Tinombo serta Lambunu dan sekitarnya,” ujar Dadan.
Selain pengembangan kakao, Dinas TPHP juga mengawal program peremajaan kelapa dengan kuota 500 hektare pada tahun ini. Program tersebut didukung penyediaan 50.000 bibit dan bantuan biaya tenaga kerja melalui kelompok tani dengan total nilai sekitar Rp2,1 miliar.
Pemerintah daerah berharap memperoleh tambahan kuota peremajaan kelapa sekitar 200 hektare pada tahun berikutnya. Hal ini mempertimbangkan posisi Parigi Moutong sebagai salah satu sentra produksi kelapa di Sulawesi Tengah.
Di sisi lain, pengembangan komoditas perkebunan juga mulai membuka peluang masuknya investasi. Berdasarkan informasi dari Direktorat Jenderal Perkebunan, dalam waktu dekat direncanakan kunjungan investor untuk mengumpulkan data produksi sekaligus memetakan potensi dan sebaran komoditas kakao di Parigi Moutong.
Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat pengembangan perkebunan daerah, tidak hanya melalui bantuan pemerintah, tetapi juga melalui peluang investasi yang dapat mendorong peningkatan nilai ekonomi komoditas unggulan masyarakat.*







